Text Practice Mode
Melawan candu
created Monday February 02, 11:34 by aziz8
0
189 words
29 completed
5
Rating visible after 3 or more votes
saving score / loading statistics ...
00:00
Lampu kota meredup di balik jendela, aku berjanji ini yang terakhir kalinya. Namun janji itu menguap bersama udara, saat bayangannya datang mengetuk pintu jiwa. Aku tahu ini racun yang dibalut madu, manis di lidah, namun hatiku membatu.
Kakiku melangkah ingin menjauh, tapi hatiku justru bersimpuh di hadapan kegelapan yang sama, yang perlahan mengahapus namaku dan sisa tawa.
Aku terpenjara dalam lingkaran yang tak berujung melawan diri sendir, namun aku yang tersungku ingin kupecahkan kaca yang memantulkan luka, tapi tanganku gemetar, takut kehilangan sisa rasa Tuhan, sulit sekali utnuk sekadar berka "tidak". Saat kehancuran ini terasa seperti rumah tempatku berpijak.
Dunia berkata "berhentilah sekarang" seolah membalik telapak tangan itu gampang, mereka tak tahu perang yang ada di kepala ribuan suara berteriak, memaksa untuk menyerah saja, aku benci siapa aku saat cahaya itu datang, namun aku takut pada gelap jika ia menghilang.
Satu langkah maju, dua langkah jatuh, suara dalam batin tak henti mengeluh, aku lelah menjadi tawanan bayang-bayang, mencari kebebasan di tempat yang salah dan gersang.
Hari ini aku kalah lagi... Tapi besok, akan kucoba berdiri meski napasku sesak, meski jalanku sunyi, aku hanya ingin kembali menjadi diriku yang asli.
Kakiku melangkah ingin menjauh, tapi hatiku justru bersimpuh di hadapan kegelapan yang sama, yang perlahan mengahapus namaku dan sisa tawa.
Aku terpenjara dalam lingkaran yang tak berujung melawan diri sendir, namun aku yang tersungku ingin kupecahkan kaca yang memantulkan luka, tapi tanganku gemetar, takut kehilangan sisa rasa Tuhan, sulit sekali utnuk sekadar berka "tidak". Saat kehancuran ini terasa seperti rumah tempatku berpijak.
Dunia berkata "berhentilah sekarang" seolah membalik telapak tangan itu gampang, mereka tak tahu perang yang ada di kepala ribuan suara berteriak, memaksa untuk menyerah saja, aku benci siapa aku saat cahaya itu datang, namun aku takut pada gelap jika ia menghilang.
Satu langkah maju, dua langkah jatuh, suara dalam batin tak henti mengeluh, aku lelah menjadi tawanan bayang-bayang, mencari kebebasan di tempat yang salah dan gersang.
Hari ini aku kalah lagi... Tapi besok, akan kucoba berdiri meski napasku sesak, meski jalanku sunyi, aku hanya ingin kembali menjadi diriku yang asli.
saving score / loading statistics ...